Kamis, 07 Maret 2013

ANEMIA PADA IBU HAMIL



A.    Kehamilan
Kehamilan secara alami dapat terjadi dengan terpenuhinya beberapa persyaratan mutlak, antara lain : sperma suami yang normal, mulut rahim dan rongga rahim yang normal, saluran telur (tubafallopi) yang intak (bebas dan tidak buntu), indung telur (ovarium) normal, serta pertemuan sel sperma dan sel telur (ovum) pada saat yang tepat (masa subur) (Prasetyadi, Frans.O.H, 2012 : 19).
Fertilisasi merupakan proses terjadinya pembuahan yaitu saat sel sperma dan sel telur bertemu. Proses ini adalah salah satu proses biologis yang sangat penting, diawali dengan pelepasan sel telur (ovulasi) oleh indung telur pada puncak masa subur. Pembuahan dapat terjadi dalam waktu beberapa jam setelah ovulasi, proses ini terjadi di saluran telur (Prasetyadi, Frans.O.H, 2012 : 20).
Tiga pembagian waktu kehamilan yaitu trimester pertama apabila kehamilan masih berumur 0-12 minggu. Trimester kedua, apabila umur kehamilan lebih dari 12-28 minggu, serta trimester ketiga apabila umur kehamilan lebih dari 28-40 minggu (Siswosuharjo, Suwignyo, dkk, 2010 : 43).

B.     Anemia Pada Ibu Hamil
1.      Definisi Anemia Pada ibu Hamil
Menurut WHO (1992) anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari batas normal untuk kelompok orang yang bersangkutan (Tarwoto, dkk, 2007 : 30).
Anemia merupakan suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin dibawah nilai normal. Pada penderita anemia lebih sering disebut dengan kurang darah, kadar sel darah merah dibawah nilai normal (Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk, 2010 : 114).
Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh jaringan (Tarwoto, dkk, 2007 : 30).
Ibu hamil dikatakan anemia jika hemoglobin darahnya kurang dari 11gr%. Bahaya anemia pada ibu hamil tidak saja berpengaruh  terhadap keselamatan dirinya, tetapi juga pada janin yang dikandungnya (Wibisono, Hermawan, dkk, 2009 : 101).
Penyebab paling umum dari anemia pada kehamilan adalah kekurangan zat besi. Hal ini penting dilakukan pemeriksaan untuk anemia pada kunjungan pertama kehamilan. Bahkan, jika tidak mengalami anemia pada saat kunjungan pertama, masih mungkin terjadi anemia pada kehamilan lanjutannya (Proverawati, 2011 : 129).
Anemia juga disebabkan oleh kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi atau adanya gangguan penyerapan zat besi dalam tubuh (Wibisono, Hermawan, dkk, 2009 : 101).
2.      Tanda dan gejala anemia pada Ibu Hamil
Bila kadar Hb < 7gr% maka gejala dan tanda anemia akan jelas. Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil berdasarkan kriteria WHO tahun 1972 ditetapkan 3 kategori yaitu:
a.       Normal > 11gr%
b.      Ringan 8-11gr%
c.       Berat <8gr%
(Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk, 2010 : 114)
Gejala yang mungkin timbul pada anemia adalah keluhan lemah, pucat dan mudah pingsan walaupun tekanan darah masih dalam batas normal (Feryanto, Achmad, 2011 : 37).
Menurut Proverawati (2011) banyak gejala anemia selama kehamilan, meliputi:
a.       Merasa lelah atau lemah
b.      Kulit pucat progresif
c.       Denyut jantung cepat
d.      Sesak napas
e.       Konsentrasi terganggu

3.      Penyebab Anemia Pada Ibu Hamil
Menurut Tarwoto,dkk, (2007:13) penyebab anemia secara umum adalah:
a.       Kekurangan zat gizi dalam makanan yang dikonsumsi, misalnya faktor kemiskinan.
b.      Penyerapan zat besi yang tidak optimal, misalnya karena diare.
c.       Kehilangan darah yang disebabkan oleh perdarahan menstruasi yang banyak, perdarahan akibat luka.
Sebagian besar anemia di Indonesia penyebabnya adalah kekuangan zat besi. Zat besi adalah salah satu unsur gizi yang merupakan komponen pembentuk Hb. Oleh karena itu disebut “Anemia Gizi Besi”.
Anemia gizi besi dapat terjadi karena hal-hal berikut ini:
a.       Kandungan zat besi dari makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan.
b.      Meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi.
c.       Meningkatnya pengeluaran zat besi dari tubuh.
(Feryanto, Achmad, 2011 : 37-38)
4.      Patofisiologi Anemia Pada Ibu Hamil
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah karena perubahan sirkulasi yang semakin meningkat terhadap plasenta dan pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% pada trimester II kehamilan dan maksimum terjadi pada pada bulan ke-9, menurun sedikit menjelang aterm serta kembali normal 3 bulan setelah partus (Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk, 2010 : 115).
5.      Klasifikasi Anemia Dalam Kehamilan
Klasifikasi Anemia Dalam kehamilan menurut Tarwoto,dkk, (2007 : 42-56) adalah sebagai berikut:
a.       Anemia Defesiensi Besi
Anemia defesiensi besi merupakan jenis anemia terbanyak didunia, yang disebabkan oleh suplai besi kurang dalam tubuh.


b.      Anemia Megaloblastik
Anemia yang disebabkan karena defesiensi vitamin B12 dan asam folat.
c.       Anemia Aplastik
Terjadi akibat ketidaksanggupan sumsum tulang membentuk sel-sel darah. Kegagalan tersebut disebabkan kerusakan primer sistem sel yang mengakibatkan anemia.
d.      Anemia Hemolitik
Anemia Hemolitik disebabkan karena terjadi peningkatan hemolisis dari eritrosit, sehingga usianya lebih pendek.
e.       Anemia Sel Sabit
Anemia sel sabit adalah anemia hemolitika berat dan pembesaran limpa akibat molekul Hb.
6.      Diagnosis Anemia pada kehamilan
Pemeriksaan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat Sahli, yaitu membandingkan secara visual warna darah dengan alat standar.
a.       Alat dan bahan
1.      Lancet/jarum penusuk
2.      Kapas alkohol dalam tempatnya
3.      Bengkok
4.      Kapas kering
5.      Hb meter
6.      Alat pengaduk
7.      Aquadest
8.      HCl 0,1 n
b.      Prosedur kerja
1)      Jelaskan prosedur yang dilakukan
2)      Cuci tangan
3)      Berikan HCl 0,1 n pada tabung Hb meter sebanyak 5 tetes
4)      Desinfeksi dengan kapas alkohol pada daerah yang akan dilakukan penusukan pada kapiler di jari tangan atau tungkai
5)      Lakukan penusukan dengan lancet atau jarum pada daerah perifer seperti jari tangan.
6)      Setelah darah keluar, usap dengan kapas kering
7)      Kemudian ambil darah dengan pengisap pipet sampai garis yang ditentukan
8)      Masukkan ke dalam tabung Hb meter dan encerkan dengan aquadest hingga warna sesuai dengan pembanding Hb meter
9)      Baca hasil tunggu 5 menit dengan g % ml darah
10)  Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
(Hidayat, A.Azis, dkk, 2005 : 269-271)
Setelah dilakukan pengukuran Hb menggunakan Hb Sahli, WHO  menetapkan 3 kategori anemia pada ibu hamil  yaitu:
a.       Normal > 11 gr%
b.      Ringan 8-11 gr%
c.       Berat < 8 gr%
(Rukiyah, Ai Yeyeh, 2010 : 114)        


Departemen kesehatan menetapkan derajat anemia sebagai berikut:
a.       Ringan sekali         : Hb 11g/dl-batas normal
b.      Ringan                   : Hb 8g/dl-<11g/dl
c.       Sedang                  : Hb 5g/dl-<8g/dl
d.      Berat                     : < 5g/dl
(Tarwoto, dkk, 2007 : 31)
7.      Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa  dan Ibu Hamil Menurut WHO
Adapun kadar Hb menurut WHO pada perempuan dewasa dan ibu hamil adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa  dan Ibu Hamil Menurut WHO

Jenis Kelamin
Hb Normal
Hb Anemia Kurang Dari (gr/dl)
Lahir (aterm)
13.5-18.5

13.5
Perempuan dewasa tidak hamil
12.0-15.0
12.0
Perempuan dewasa hamil:


Trimester Pertama : 0-12 minggu
11.0-14.0
11.0
Trimester Kedua : 13-28 minggu
10.5-14.5
10.5
Trimester ketiga : 29 aterm
11.0-14.0
11.0

(Tarwoto, 2007:64)




8.      Faktor Resiko Anemia Dalam Kehamilan
Tubuh berada pada resiko tinggi untuk menjadi anemia selama kehamilan jika:
a.       Mengalami dua kehamilan yang berdekatan
b.      Hamil dengan lebih dari satu anak
c.       Sering mual dan muntah
d.      Tidak mengkonsumsi cukup zat besi
e.       Hamil saat masih remaja
f.       Kehilangan banyak darah (misalnya dari cedera atau selama operasi)
(Proverawati, Atikah, 2011 : 134)
9.      Pengaruh Anemia Pada Kehamilan
Zat besi terutama sangat diperlukan di trimester tiga kehamilan. Wanita hamil cenderung terkena anemia pada trimester ketiga, karena pada masa ini janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir (Sinsin, Lis, 2008 : 65 ).
Tingginya angka kematian ibu berkaitan erat dengan anemia. Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Pada wanita hamil anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Resiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah dan angka kematian perinatal meningkat. Pengaruh anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan (Abortus, partus prematurus), gangguan proses persalinan (atonia uteri, partus lama), gangguan pada masa nifas (daya tahan terhadap infeksi dan stress, produksi ASI rendah) dan gangguan pada janin (abortus, mikrosomia, BBLR, kematian perinatal) (Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk, 2010 : 114-115).
10.  Pencegahan Anemia Kehamilan
Nutrisi yang baik adalah cara terbaik untuk mencegah terjadinya anemia jika sedang hamil. Makan makanan yang tinggi kandungan zat besi (seperti sayuran berdaunan hijau, daging merah dan kacang tanah) dapat membantu memastikan bahwa tubuh menjaga pasokan besi yang diperlukan untuk berfungsi dengan baik. Pemberian vitamin untuk memastikan bahwa tubuh memiliki cukup zat besi dan folat. Pastikan tubuh mendapatkan setidaknya 27 mg zat setiap hari. Jika mengalami anemia selama kehamilan, biasanya dapat diobati dengan mengambil suplemen zat besi. Pastikan bahwa wanita hamil diperiksa pada kunjungan pertama kehamilan untuk pemeriksaan anemia (Proverawati, Atikah, 2011 : 137).
11.  Pengobatan Anemia Kehamilan
Tablet tambah darah adalah tablet besi folat yang setiap tablet mengandung 200 mg ferro sulfat dan 0,25 mg asam folat. Wanita yang sedang hamil dan menyusui, kebutuhan zat besinya sangat tinggi sehingga perlu dipersiapkan sedini mungkin semenjak remaja. Minumlah 1 (satu) tablet tambah darah seminggu sekali dan dianjurkan minum 1 (satu) tablet setiap hari selama haid. Untuk ibu hamil, minumlah 1 (satu) tablet tambah darah paling sedikit selama 90 hari masa kehamilan dan 40 hari setelah melahirkan.
Perawatan diarahkan untuk mengatasi anemia. Transfusi darah biasanya dilakukan untuk setiap anemia jika gejala yang dialami cukup parah (Proverawati, Atikah, 2011 : 136).

C.    Taksiran Berat Badan Janin
1.      Pengertian Janin
Masa Embrional, meliputi masa pertumbuhan intrauterin sampai usia kehamilan 8 minggu, ketika ovum yang dibuahi mengadakan pembelahan menjadi organ-organ yang hampir lengkap sampai terbentuk struktur yang akan berkembang menjadi bentuk manusia. Misalnya sistem sirkulasi, berlanjut terus sampai minggu ke-12. Masa fetal meliputi masa pertumbuhan intrauterin antara usia kehamilan minggu ke 8-12 sampai dengan minggu ke-40 (pada kehamilan normal/aterm), ketika organisme yang telah memiliki struktur lengkap tersebut mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sampai pada keadaan yang memungkinkan untuk hidup dan berfungsi di dunia luar (Prasetyadi, Frans.O.H, 2012 : 38).
Pengertian janin yaitu hasil dari konsepsi yang terjadi antara sel sperma dan sel telur yang tumbuh dan berkembang dalam rahim seorang wanita yang dimulai dari usia 0 s/d 36-40 minggu (Prasetyadi, Frans.O.H, 2012 : 40).
Pertumbuhan dan perkembangan janin  dalam rahim sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Jika  ibu  mengalami anemia selama kehamilan maka berisiko untuk memiliki bayi lahir prematur atau berat badan bayi lahir rendah (Kusmiyati, Yuni, dkk, 2008 : 38).
Pada bayi baru lahir, yang dikatakan berat badan normal yaitu sekitar 2500-3500 gram apabila ditemukan berat badan kurang dari 2500 gram maka dikatakan bayi memiliki berat badan lahir rendah (Hidayat, A.Azis, 2008 : 69).
Salah satu penyebab dari BBLR adalah anemia pada ibu hamil karena kekurangan zat besi. Kebutuhan zat besi sekitar sekitar 1000 mg selama hamil atau naik sekitar 200-300%. Perkiraan besarnya zat besi yang perlu ditimbun selama hamil 1.040 mg. Dari jumlah itu, 200 mg zat besi tertahan oleh tubuh ketika melahirkan dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg besi ditransfer ke janin dengan rincian 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah sel darah merah dan 200 mg hilang ketika melahirkan. Kebutuhan zat besi pada trimester pertama relatif lebih sedikit yaitu sekitar 0.8 mg per hari, tetapi pada trimester dua dan trimester tiga meningkat menjadi 6.3 mg perhari (Tarwoto, dkk, 2007 : 65).
2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Pada Janin
Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan berat badan janin adalah:
a.    Gizi Ibu
Gizi makanan ibu berpengaruh pada pertumbuhan janin. Pengaturan gizi yang baik akan berpengaruh positif, sedangkan bila kurang baik maka pengaruhnya negatif. Pengaruh ini tampak jelas pada bayi yang baru lahir dalam hal panjang dan besarnya. Panjang dan besarnya bayi dalam keadaan normal bila gizi juga baik. Gizi yang berlebihan mengakibatkan bayi terlalu panjang dan terlalu besar. Bayi yang terlalu panjang dan terlalu besar bisa menyulitkan proses kelahiran. Sedangkan ibu yang kekurangan gizi, bayinya pendek, kecil, dan kondisi kesehatannya kurang baik.
b.    Aktifitas Fisik
Pada saat hamil ibu tetap perlu melakukan aktifitas fisik, Tetapi terbatas pada aktifitas ringan. Aktifitas fisik yang berat bisa menyebabkan keguguran kandungan, apalagi bila dilakukan pada bulan-bulan awal kehamilan. Aktifitas fisik yang berat bisa mengakibatkan kelelahan, misalnya Ibu hamil yang bekerja terlalu berat disebabkan karena terlalu banyak aktifitas yang cukup menyita energi dan konsentrasi, besarnya janin akan menyusut atau berkembangnnya tidak baik. kelelahan dapat menurunkan nafsu makan. Jika nafsu makan menurun, maka pasokan nutrisi bagi janin dapat terganggu. Perkembangan dan pertumbuhan bayi yang ada dalam kandugan bisa terganggu dan tidak bisa berkembang sempurna.
c.    Penyakit yang di Derita Ibu
Penyakit yang diderita ibu pada saat hamil bisa berakibat negatif kepada janin yang dikandung. Akibat negatif yang bisa ditimbulkan adalah kematian pada saat di dalam kandungan atau terbentuknya organ-organ tubuh jari yang tidak sempurna atau cacat.
Penyakit ibu yang bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin di dalam kandungan antara lain : kolera, malaria, anemia dan lain-lain. (http://rosy46nelli.wordpress.com/2009/11/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-janin-dan-individu/)

3.      Penentuan Taksiran Berat Badan Janin Berdasarkan Tinggi Fundus Uteri (TFU)
Pada setiap kunjungan ibu hamil dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Apabila hasil wawancara atau temuan fisik mencurigakan, dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Salah satu pemantauan kehamilan yang dilakukan adalah pengukuran tinggi fundus uteri. Pengukuran TFU dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor risiko tinggi misalnya pada ibu hamil dengan anemia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengukuran TFU memegang peranan penting dalam pemeriksaan kehamilan (Koesno, Harni, 2006).
Secara tradisional perkiraan tinggi fundus dilakukan dengan palpasi fundus dan membandingkannya dengan beberapa patokan antara lain simpisis pubis, umbilikus dan prosesus xipoideus. Cara tersebut dilakukan dengan atau tanpa memperhitungkan ukuran tubuh ibu. Sebaik-baiknya pemeriksaan tersebut hasilnya masih kasar dan dilaporkan hasilnya bervariasi (Kusmiyati,Yuni, dkk, 2008 : 51).
Dalam upaya standarisasi perkiraan tinggi fundus uteri, lebih disarankan menggunakan pita ukur untuk mengukur tinggi fundus dari tepi atas simpisis pubis karena memberikan hasil yang lebih akurat dan dapat diandalkan. Diketahui bahwa pengukuran dengan menggunakan pita ukur  memberikan hasil yang lebih konsisten antar-individu. Juga telah dibuktikan bahwa teknik ini sangat berguna dinegara berkembang sebagai alat tapis awal dan dapat dilakukan oleh para dokter dan bidan dengan efisiensi yang setara (Kusmiyati, Yuni, dkk, 2008 : 51).
Penting untuk diketahui bahwa pita ukur yang digunakan hendaknya terbuat dari bahan yang bisa mengendur (seperti yang digunakan para penjahit). Kandung kemih hendaknya kosong. Pengukuran dilakukan dengan menempatkan ujung dari pita ukur pada tepi atas simfisis pubis dan dengan tetap menjaga pita ukur menempel pada dinding abdomen diukur jaraknya kebagian atas fundus uteri. Ukuran ini biasanya sesuai dengan umur kehamilan dalam minggu setelah umur kehamilan 28 minggu (Kusmiyati, Yuni, dkk, 2008 : 51).
Berdasarkan Rumus Johnson – Toshack, untuk menghitung Taksiran berat badan janin melalui pengukuran tinggi fundus adalah sebagai berikut:
TBBJ (Taksiran Berat Badan Janin) = (Tinggi Fundus Uteri (cm) – N ) x 155 gram.
Keterangan :
N= 13 bila kepala belum memasuki Pintu Atas Panggul (PAP)
N= 12 bila kepala masih berada di atas spina ischiadika
N= 11 bila kepala sudah melewati Pintu Atas Panggul (PAP)
Misalnya tinggi fundus uteri ibu 28 cm, sementara kepala janin masih belum memasuki PAP. Maka perhitungannya adalah (28-13)x155=2325 gram. Jadi taksiran berat badan janin yang didapat adalah 2325 gram (http://www.scribd.com/doc/55725594/Rumus-Johnson)
Pengukuran Tinggi Fundus Uteri pada ibu hamil dengan anemia sangat diperlukan untuk mengetahui berat badan janin sebelum bayi lahir. Menurut Kristiyanasari kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin . Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas dan kematian perinatal. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupu mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan Prematur lebih besar.
4.      Empat metode pengukuran Tinggi Fundus Uteri
a.       Metode I
Menentukan TFU dengan mengkombinasikan hasil pengukuran dari memperkirakan dimana TFU berada pada setiap minggu kehamilan dihubungkan dengan simpisis pubis wanita, umbilikus dan ujung jari dari prosesus xifoid dan menggunakan lebar jari pemeriksa sebagai alat ukur.
Ketidak akuratan metode ini:
1)      Wanita bervariasi pada jarak simpisis pubis ke prosesus xifoid, lokasi umbilikus diantara 2 titik.
2)      Lebar jari pemeriksa bervariasi antara yang gemuk dan yang kurus.
Keuntungan :                                             
a)      Digunakan jika tidak ada pita pengukur
b)      Jari cukup akurat untuk menentukan perbedaan yang jelas antara perkiraan umur kehamilan dengan tanggal dan dan dengan temuan hasil pemeriksaan dan untuk mengindikasi perlunya pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan ketidaksesuaian dan sebab kelainan tersebut.


b.      Metode II
Metode ini menggunakan alat ukur Caliper. Caliper digunakan dengan meletakkan satu ujung pada tepi atas simpisis pubis dan ujung yang lain pada puncak fundus. Kedua ujung diletakkan pada garis tengah abdominal. Ukuran kemudian dibaca pada skala cm yang terletak ketika 2 ujung caliper bertemu. Ukuran diperkirakan sama dengan minggu kehamilan setelah sekitar 22-24 minggu. Keuntungan mengukur dengan cara ini adalah lebih akurat dibandingkan pita pengukur terutama dalam mengukur TFU setelah 22-24 minggu kehamilan (dibuktikan oleh studi yang dilakukan Engstrom,Mc.Farlin dan Sitler). Kerugiannya adalah jarang digunakan karena lebih sulit, lebih mahal, kurang praktis dibawa, lebih susah dibaca, lebih susah digunakan dibandingkan pita pengukur.
c.       Metode III
Menggunakan pita pengukur dimulai dari titik nol pita pengukur diletakkan pada tepi atas simfisis pubis dan pita pengukur ditarik melewati garis tengah abdomen sampai puncak. Hasil dibaca dengan skala cm.
Keuntungan:
1)      Lebih murah, mudah dibawa, mudah dibaca hasilnya, mudah digunakan.
2)      Cukup akurat
d.      Metoda IV
Menggunakan pita pengukur tapi metode pengukurannya berbeda. Garis nol pita pengukur diletakkan pada tepi atas simfisis pubis digaris abdominal, tangan yang lain diletakkan didasar fundus, pita pengukur diletakkan diantara jari telunjuk dan jari tengah, pengukuran dilakukan sampai titik dimana jari menjepit pita pengukur. Sehingga pita pengukur mengikuti bentuk abdomen hanya sejauh puncaknya dan kemudian secara relatif lurus ketitik yang ditahan oleh jari-jari pemeriksa, pita tidak melewati slope anterior dari fundus. Caranya tidak diukur karena tidak melewati slope anterior tapi dihitung secara matematika sebagai berikut:
1)      Sebelum fundus mencapai ketinggian yang sama dengan umbilikus, tambahan 4 cm pada jumlah cm yang terukur. Jumlah total centimeternya  diperkirakan sama dengan jumlah minggu kehamilan
2)   Sesudah fundus mencapai tinggi yang sama dengan umbilikus, tambahkan 6 cm pada jumlah cm yang terukur. Jumlah total centimeternya yang diukur diperkirakan sama dengan jumlah minggu kehamilan. (http://www.bascommetro.com/2010/04/pengukuran-tinggi-fundus-uteri.html)

5.      Kurva Berat Badan Lahir dan Berat Badan Janin Menurut David Hull Derek I. Johnston.
Setelah dilakukan pengukuran tinggi fundus uteri pada ibu hamil trimester III, diperoleh hasil Berat Badan Janin yang dapat dikonversikan kedalam kurva menurut Hull Derek I. Johnston seperti dibawah ini:













Gambar 2.1
Kurva Berat Badan Lahir dan Berat Badan Janin Menurut David Hull Derek I. Johnston

Berat badan lahir yang digambarkan pada grafik pertumbuhan berat badan terhadap usia gestasi membantu kita dalam menentukan kelompok-kelompok bayi. Bayi dengan berat badan lahir antara garis sentil 10 dan sentil 90 adalah bayi normal sesuai masa kehamilan. Bayi dengan berat badan lahir lebih dari sentil 90 adalah bayi besar untuk masa kehamilan. Dan bayi dengan berat badan lahir lebih kecil dari sentil 10 adalah kecil untuk masa kehamilan. Kecil untuk masa kehamilan juga mencakup dismatur. Kita perlu menentukan apakah bayi tergolong besar untuk masa kehamilan atau kecil untuk masa kehamilan atau prematur atau postmatur, karena setiap kategori mempunyai masalah sendiri-sendiri yang dapat diantisipasi dan diobati.
6.      Pengukuran Lingkar Lengan Atas (Lila)
Merupakan penilaian antropometri pada ibu hamil dengan cara  pengukuran langsung. Pengukuran ini dapat bermanfaat untuk mengetahui keadaan status gizi ibu hamil serta mendeteksi apakah ibu hamil menderita KEK (Kurang Energi Kronik). Pengukuran Lila pada ibu hamil adalah untuk mendeteksi resiko terjadinya kejadian bayi dengan BBLR. Resiko KEK untuk ibu hamil adalah apabila Lila < 23.5 cm.
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin, seperti diuraikan dibawah ini:
1.    Terhadap Ibu
Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain : anemia, perdarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi. Kekurangan asupan gizi pada tirmester I dikaitkan dengan tingginya kejadian bayi lahir prematur, kematian janin, dan kelainan pada sistem saraf pusat bayi. Sedangkan kekurangan energi pada trimester I dan II dapat menghambat pertumbuhan janin atau tak berkembang sesuai usia kehamilannya.
2.      Terhadap Persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (prematur), perdarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi cendrung meningkat.
3.      Terhadap Janin
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) (Hidayat, A. Azis, 2012 : 278-281).

7.      Kerangka Teori
Faktor  resiko terjadinya ( Anemia):
1.       Mengalami dua kehamilan yang berdekatan
2.       Hamil dengan lebih dari satu anak
3.       Sering mual dan muntah
4.       Tidak mengkonsumsi cukup zat besi
5.       Hamil saat masih remaja
6.       Kehilangan banyak darah (misalnya dari cedera atau selama operasi)

Faktor yang mempengaruhi Berat Badan Janin:
·         Gizi Ibu
·         Aktifitas fisik
·         Penyakit yang di derita Ibu :






Berat Badan Janin:
·         Normal
·         Rendah
(Anemia)
 









                                                                       
 





















Skema 2.1
Kerangka Teori Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Trimester III dengan Taksiran Berat Badan Janin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar